Cute Pictures of Kittens

Senin, April 20, 2009

Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kurikulum memegang kedudukan kunci dalam pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan, yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Kurikulum menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah, wilayah maupun nasional. Semua pendidikan berkepentingan dengan kurikulum, sebab kurikulum mempunyai andil yang cukup besar dalam melahirkan dan mengharapkan tumbuh dan berkembangnya anak generasi muda yang lebih baik, lebih cerdas dan lebih berkemampuan.
Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan, serta proses pendidikan. Kemampuan seorang guru diuji dalam bentuk perbuatan yang akan mewujudkan bentuk kurikulum yang nyata dan hidup yang diterapkan di dalam kelas. Disana semua konsep, prinsip, nilai, pengetahuan, metode, alat dan kemampuan guru diuji. Perwujudan konsep, prinsip, dan aspek-aspek kurikulum tersebut seluruhnya terletak pada guru. Oleh karena itu, gurulah pemegang kunci pelaksanaan dan keberhasilan kurikulum.
Sebagai alat penting dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan, kurikulum hendaknya berperan dan bersifat anticipatory dan adaptif terhadap perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kurikulum tidak boleh statis. Oleh karena itu, wajar jika kurikulum selalu berubah dan berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang terjadi. Pendapat sebagian masyarakat yang menyatakan “Ganti Menteri, Ganti Kurikulum” hanyalah disebabkan karena mereka tidak memahami alasan mendasar terjadinya pergantian tersebut. Kalau kita ingin pendidikan maju, kita harus menerima perubahan, karena pada dasarnya yang kekal hanyalah perubahan.
Pengembangan kurikulum merupakan bagian yang esensial dalam proses pendidikan. Sasaran yang ingin dicapai dalam pengembangan kurikulum lebih dititikberatkan pada upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Caswell mengartikan pengembangan kurikulum sebagai alat untuk membantu guru dalam melakukan tugas mengajarkan bahan, menarik minat siswa dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara Beane, Toepfer dan Allesia menyatakan bahwa pengembangan kurikulum adalah suatu proses dimana partisipasi pada berbagai tingkat dalam membuat keputusan tentang tujuan, tentang bagaimana tujuan direalisasikan melalui proses mengajar belajar dan apakah tujuan serta alat itu serasi dan efektif (dalam Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, Subandijah)
Dari kedua pendapat tersebut, dapat dikatakan bahwa pengembangan kurikulum merupakan suatu proses merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat diciptakan kondisi mengajar-belajar yang lebih baik. Dengan kata lain, pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kurikulum baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian yang dilakukan selama periode waktu tertentu.
Miller dan Seller (1985) lebih menekankan pada hal yang penting dalam pengembangan kurikulum yaitu Orientasi. Orientasi dalam pengembangan kurikulum menyangkut tujuh aspek yakni: prilaku, disiplin ilmu, masyarakat, pengembangan, proses kognitif, humanistic dan transpersonal. Disamping itu, orientasi menyangkut enam masalah pokok, yaitu:
1. Tujuan pendidikan: menunjukkan arah kegiatan,
2. Konsepsi tentang anak: pandangan mengenai anak, apakah sebagai pelaku aktif atau pasif,
3. Konsepsi tentang proses mengajar-belajar: aspek transpersonal, kehidupan batin anak dan perubahan tingkah laku,
4. Konsepsi tentang lingkungan: pengaturan lingkungan untuk memperlancar belajar,
5. Konsepsi tentang peranan guru: otoriter, directive atau fasilitator, dan;
6. Evaluasi belajar, mengacu pada tes, eksperimental atau bersifat terbuka.
Setiap pengembangan kurikulum, harus berpijak pada sejumlah landasan, dan harus menerapkan atau menggunakan prinsip-prinsip tertentu. Dengan adanya prinsip tersebut, setiap pengembangan kurikulum diikat oleh ketentuan atau hukum sehingga dalam pengembangannya mempunyai arah yang jelas sesuai dengan prinsip yang telah disepakati.

B. Rumusan Masalah

Mengingat cakupan dari materi kurikulum sangat luas, maka perlu dibuat rumusan masalah. Adapun yang menjadi rumusan masalah pada pembahasan makalah ini adalah :
Apa saja prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum ?
Siapa saja yang berperan dalam pengembangan kurikulum ?
Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dan menghambat pengembangan kurikulum ?

C. Tujuan Penulisan

Makalah ini ditulis dengan tujuan untuk :
Memberi penjelasan tentang prinsip-prinsip pengembangan kurikulum.
Memberi penjelasan tentang siapa saja yang berperan dalam pengembangan kurikulum.
Memberi penjelasan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi dan menghambat pengembangan kurikulum

BAB II
PEMBAHASAN

A. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum

Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Dalam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan/ ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidikan, pejabat pendidikan, pengusaha serta unsur-unsur masyarakat lainnya. Rancangan ini disusun dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri, keluarga maupun masyarakat.
Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang dinamis. Hal ini berarti bahwa kurikulum harus selalu dikembangkan dan disempurnakan agar sesuai dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta masyarakat yang sedang membangun. Pengembangan kurikulum harus didasarkan pada prinsip-prinsip pengembangan yang berlaku. Hal ini dimaksudkan agar hasil pengembangan kurikulum tersebut sesuai dengan minat, bakat, kebutuhan peserta didik, lingkungan, kebutuhan daerah sehingga dapat memperlancar pelaksanaan proses pendidikan dalam rangka perwujudan atau pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengelompokkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum ke dalam dua bagian yaitu prinsip-prinsip umum dan prinsip-pinsip khusus.
1. Prinsip-Prinsip Umum yang terdiri dari lima prinsip :
a. Prinsip Relevansi
- Relevansi keluar kurikulum yaitu tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum itu sendiri. Maksudnya tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan masyarakat, yang menyiapkan siswa untuk bisa hidup dan bekerja dalam masyarakat. Isi kurikulum mempersiapkan siswa sekarang dan siswa yang akan datang untuk tugas yang ada dalam perkembangan masyarakat.
- Relevansi didalam kurikulum yaitu: adanya kesesuaian atau konsistensi antara kompenen-kompenen kurikulum yaitu antara tujuan, isi proses penyampaian dan penilaian. Relevansi internal ini menunjukkan suatu keterpaduan kurikulum.
b. Prinsip Fleksibilitas
Kurikulum hendaknya memiliki sifat lentur atau fleksibel. Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, di sini dan ditempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Suatu kurikulum yang baik adalah kurikulum yang berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam pelaksanaannya mungkin terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang anak.
c. Prinsip Kontinuitas (kesinambungan)
Perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau berhenti-henti. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas, dengan kelas lainnya, antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang lainnya, juga antara jenjang pendidikan dengan pekerjaan. Pengembangan kurikulum perlu dilakukan serempak bersama-sama, perlu selalu ada komunikasi dan kerja sama antara para pengembangan kurikulum sekolah dasar dengan SMTP, SMTA, dan Perguruan Tinggi.
d. Prinsip Praktis
Kurikulum harus praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. dan efisien.. Walaupun bagus dan idealnya suatu kurikulum kalau menuntut keahlian-keahlian dan peralatan-peralatan yang sangat khusus dan mahal biayanya maka kurikulum tersebut tidak praktis dan sukar dilaksanakan. Kurikulum dan pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan , baik keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia. Kurikulum bukan hanya harus ideal tetapi juga praktis
e. Prinsip Efektivitas
Walaupun kurikulum tersebut harus murah dan sederhana tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan. Keberhasilan pelaksanaan kurikulum ini baik secara kuantitas maupun kualitas. Pengembangan suatu kurikulum tidak dapat dilepaskan dan merupakan penjabaran dari perencanaan pendidikan. Perencanaan dibidang pendidikan juga merupakan bagian yang dijabarkan dari kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah dibidang pendidikan. Keberhasilan kurikulum akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan.
Kurikulum pada dasarnya berintikan empat aspek utama yaitu:
a. Tujuan-tujuan pendidikan.
b. Isi Pendidikan
c. Pengalaman belajar
d. Penilaian
Keempat aspek diatas serta kebijaksanaan pendidikan perlu selalu mendapat perhatian dalam pengembangan kurikulum.


2. Prinsip-Prinsip Khusus
Prinsip-prinsip khusus ini berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar dan penilaian. Prinsip khusus ini terdiri dari lima hal yakni:
Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan
Tujuan merupakan pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan kompenen-kompenen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau berjangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada:
Ketentuan dan kebijaksanaan pemerintah, yang dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen lembaga negara mengenai tujuan, dan strategi pembangunan termasuk didalamnya pendidikan
Survai mengenai persepsi orang tua/ masyarakat tentang kebutuhan mereka yang dikirimkan melalui angket atau wawancara dengan mereka
Survei tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, dihimpun melalui angket, wawancara, observasi, dan dari berbagai media massa
Survai tentang manpower
Pengalaman negara-negara lain dalam masalah yang sama
Penelitian

Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
Memilih isi pendidikan yang sesuai dengan keutuhan pendidikan yang telah ditentukan para perencana kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu:
Perlu penjabaran tujuan pendidikan/ pengajaran kedalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana. Makin umum suatu perbuatan hasil belajar dirumuskan semakin sulit menciptakan pengalaman belajar
Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan ketrampilan
Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis. Pengetahuan, sikap dan ketrampilan diberikan secara simultan dalam urutan situasi belajar

Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar
Pemilihan proses belajar mengajar yang digunakan hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Apakah metode/ teknik belajar-mengajar yang digunakan cocok untuk mengajarkan bahan pelajaran?
Apakah metode/ teknik tersebut memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa
Apakah metode/ teknik tersebut memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat?
Apakah metode/ teknik tersebut dapat menciptakan kegiatan yuntuk mencapai tujuan, kognitif, afektif dan psikomotor?
Apakah metode/ teknik tersebut lebih mengaktifkan siswa atau mengaktifkan guru atau kedua-duanya.
Apakah metode/ teknik tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru.?
Apakah metode/ teknik tersebut menimbulkan jalinan kegiatan belajar disekolah dan di rumah juga mendorong penggunaan sumber yang ada dirumah dan di masyarakat?
Untuk belajar ketrampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar yang menekankan ”learning by doing” di samping ” learning by seeing and knowing.

Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
Proses belajar mengajar yang baik perlu didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat.
Alat / media pengajaran apa yang diperlukan. Apakah semuanya sudah tersedia? Bila alat tersebut tidak ada apa penggantinya?
Kalau ada alat yang harus dibuat, hendaknya memperhatikan bagaimana pembuatannya, siapa yang membuat, pembiayaannya dan waktu pembuatannya?
Bagaimana pengorganisasian alat dalam bahan pelajaran, apakah dalam bentuk modul, paket belajar, dan lain-lain?
Bagaimana pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar?
Hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multi media.

Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian
Penilaian merupakan bagian integral dari pengajaran:
Dalam penyusunan alat penilaian (test) hendaknya diikuti langkah-langkah :
Rumuskan tujuan-tujuan pendidikan yang umum, dalam ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Uraikan kedalam bentuk tingkah laku murid yang dapat diamati. Hubungkan dengan bahan pelajaran. Tuliskan butir-butir test.
Dalam merencanakan suatu penilaian hendaknya diperhatikan : bagaimana kelas, usia, dan tingkat kemampuan kelompok yang akan dites?. Berapa lama waktu dibutuhkan untuk pelaksanaan test?. Apakah test tersebut berbentuk uraian atau objektif?. Berapa banyak butir test perlu disusun?. Apakah test tersebut diadministrasikan oleh guru atau oleh murid?
Dalam pengolahan suatu hasil penilaian hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Norma apa yang digunakan di dalam pengolahan hasil test?
Apakah digunakan formula quessing?
Bagaimana pengubahan skor mentah ke dalam skor masak?
Skor standar apa yang digunakan?
Untuk apakah hasil-hasil test digunakan?

Pengembangan kurikulum sekolah di Indonesia mengikuti prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang berbeda, namun sasaran yang hendak dicapai adalah sama , yaitu dalam rangka mewujudkan cita-cita pembangunan nasional pada umumnya dan tujuan pendidikan nasional pada khususnya dengan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Pengembangan kurikulum yang pernah diterapkan di Indonesia antara lain:
Kurikulum 1975; mengacu pada prinsip pengembangan:
- Fleksibelitas,
- Efesiensi dan efektivitas,
- Berorientasi pada tujuan,
- Kontinuitas,
- Pendidikan seumur hidup,
Kurikulum 1984; mengacu pada prinsip:
- Relevansi,
- Pendekatan pengembangan,
- Pendidikan seumur hidup,
- Keluwesan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP); mengacu pada:
- Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya,
- Beragam dan terpadu,
- Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni,
- Relevan dengan kebutuhan kehidupan,
- Menyeluruh dan berkesinambungan,
- Belajar sepanjang hayat,
- Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah,

B. Pihak-Pihak Yang Berperan Dalam Pengembangan Kurikulum

Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi, yaitu: administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli bidang ilmu pengetahuan, guru-guru, dan orang tua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut secara terus menerus turut terlibat dalam pengembangan kurikulum
Peranan para administrator pendidikan
Para administrator pendidikan ini terdiri atas: direktur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala kantor wilayah, kepala kantor kabupaten dan kecamatan serta kepala sekolah. Peranan para administrator di tingkat pusat dalam pengembangan kurikulum adalah menyusun dasar-dasr hukum, menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum. Kerangka dasar dan program inti tersebut akan menentukan minimum course yang dituntut.
Para kepala sekolah mempunyai wewenang dalam membuat operasionalisasi sistem pendidikan pada masing-masing sekolah. Para kepala sekolah ini sesungguhnya secara terus menrus terlibat dalam pengembangan dan implementasi kurikulum, memberikan dorongan dan bimbingan kepada guru-guru. Peran kepala sekolah lebih banyak berkenaan dengan implementasi kurikulum dan menciptakan kondisi untuk pengembangan kurikulum di sekolahnya. Kepala sekolah merupakan figur kunci di sekolahnya kepemimpinannya mempengaruhi suasana sekolah dn pengembangan kurikulum.
Peran para ahli
Partisipasi para ahli pendidikan dan ahli kurikulum sangat dibutuhkan dalam pengembangan kurikulum pada tingkat pusat. Apabila pengembangan kurikulum sudah banyak dilakukan pada tingkat daerah atau lokal, maka partisipasi mereka pada tingkat daerah, lokal bahkan sekolah juga sangat diperlukan , sebab apa yang telah digariskan pada tingkat pusat belum tentu dapat dengan mudah dipahami oleh para pengembang dan pelaksana kurikulum di daerah.
Pengembangan kurikulum juga membutuhkan partisipasi para ahli bidang studi/ bidang ilmu yang juga mempunyai wawasan tentang pendidikan serta perkembangan kebutuhan masyarakat. Sumbangan mereka dalam memilih materi bidang ilmu yang mutakhir dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat sangat diperlukan. Mereka juga sangat diharapkan partisipasinya dalam menyusun materi ajaran dalam sekuens yang sesuai dengan struktur keilmuan tetapi sangat memudahkan para siswa untuk mempelajarinya.
Peran guru
Peran guru sangat penting dalam perancangan maupun dalam pelaksanaan kurikulum. Guru adalah perencana, pelaksana, dan pengembang kurikulum bagi kelasnya. Meskipun guru tidak mencetuskan sendiri konsep-konsep tentang kurikulum, namun guru mampu menerjemahkan kurikulum yang datang dari atas dengan mengolah, meramu kembali kurikulum yang datang dari pusat untuk disajikan di kelasnya. Karena guru merupakan barisan pengembang kurikulum yang terdepan maka guru juga yang selalu melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap kurikulum.
Peran guru bukan hanya menilai prilaku dan partisipasi belajar murid dalam kelas, tetapi juga menilai implementasi kurikulum dalam lingkup yang lebih luas. Peran guru di kelas adalah seorang komunikator, pendorong kegiatan belajar, pengembang alat-alat belajar, pencoba, penyusunan organisasi, manajer sistem pengajaran, pembimbing baik di sekolah maupun di masyarakat. Guru sebagai pelaksana kurikulum yang menciptakan kegiatan belajar mengajar untuk muridnya. Guru menciptakan situasi belajar yang aktif , menggairahkan, penuh kesungguhan, dan mampu mendorong kreativitas anak dengan ketrampilan dan kemampuan seninya dalam mengajar.
Peran orang tua murid
Peran orang tua dalam pengembangan kurikulum hanya terbatas pada beberapa orang saja yang cukup waktu dan yang mempunyai latar belakang yang memadai. Peran orang tua lebih besar dalam pelaksana kurikulum karena dalam pelakasanaan kurikulum diperlukan kerjasama yang sangat erat dengan guru atau sekolah. Didalam kegiatan kurikulum dituntut kurikulum dilaksanakan di rumah. Tentu saja peran orang tua sangat diperlukan untuk mengikuti dan mengamati kegiatan belajar anaknya di rumah dan orang tua secara berkala akan menerima laporan kemajuan anaknya berupa rapor sebagai alat komunikasi program pendidikan di sekolah. Orang tua dapat turut berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah melalui kegiatan diskusi, lokakarya, seminar, pertemuan orang tua-guru, pameran sekolah, dan sebagainya. Kegiatan –kegiatan tersebut akan memberikan umpan balik bagi penyempurnaan kurikulum.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dan Menghambat Pengembangan Kurikulum

Faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum
Dalam pengembangan kurikulum sekolah mendapatkan pengaruh dari kekuatan-kekuatan yang ada dalam masyarakat yaitu:

a) Perguruan tinggi
Pengetahuan dan teknologi banyak memberikan sumbangan bagi isi kurikulum serta proses pembelajaran. Jenis pengetahuan yang dikembangkan di Perguruan Tinggi akan mempengaruhi isi pelajaran yang akan dikembangkan dalam kurikulum. Perkembangan teknologi selain menjadi isi kurikulum juga mendukung pengembangan alat bantu dan media pendidikan. Kurikulum Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan mempengaruhi pengembangan kurikulum, terutama melalui penguasaan ilmu dan kemampuan keguruan dari guru-guru yang dihasilkannya
b) Masyarakat
Sekolah merupakan bagian dari masyarakat dan mempersiapkan anak untuk kehidupan di masyarakat. Sebagai bagian dan agen dari masyarakat, sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat di mana sekolah tersebut berada. Isi kurikulum hendaknya mencerminkan kondisi dan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Sekolah harus melayani aspirasi-aspirasi yang ada di masyarakat, salah satu kekuatan yang ada di masyarakat adalah dunia usaha. Perkembangan dunia usaha yang ada di masyarakat mempengaruhi pengembangan kurikulum sebab sekolah bukan hanya mempersiapkan anak untuk hidup, tetapi juga untuk bekerja dan berusaha. Jenis pekerjaan dan perusahaan yang ada di masyarakat menuntut persiapannya di sekilah.
c) Sistem nilai
Sistem nilai yang ada dalam masyarakat adalah sistem nilai moral, keagamaan, sosial, budaya dan nilai politis.. Sekolah sebagai lembaga masyarakat juga bertanggung jawab dalam pemeliharaan dan penerusan nilai-nilai. Sistem nilai yang akan dipelihara dan diteruskan tersebut harus terintegrasikan dalam kurikulum. Masalah utama yang dihadapi para pengembang kurikulum menghadapi nilai adalah, bahwa dalam masyarakat nilai itu tidak hanya.heterogen Masyarakat umumnya heterogen dan multifaset. Masyarakat memiliki kelompok–kelompok etnis, kelompok intelek, kelompok sosial dan spiritual. Dalam masyarakat juga terdapat aspek-aspek sosial, ekonomi, politik, fisik, estetika, etika, religius dan sebagainya. Aspek-aspek tersebut mengandung nilai-nilai yang berbeda.
Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengajarkan nilai pada siswa adalah:
1) Guru harus mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam masyarakat.
2) Guru hendaknya berpegang pada prinsip demokrasi, etis dan moral
3) Guru berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut ditiru
4) Guru menghargai nilai-nilai kelompok lain
5) Guru memahami dan menerima keragaman budaya sendiri.

Hambatan pengembangan kurikulum
Penghambat dalam pengembangan kurikulum terletak pada:
Guru :
Guru yang kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum karena kekurangan waktu, kekurangsesuaian pendapat baik antara sesama guru maupun dengan kepala sekolah dan administrator. Sebab lain karena kurangnya pengetahuan dan kemampuan dari guru tersebut.

Masyarakat:
Untuk pengembangan kurikulum dibutuhkan dukungan masyarakat baik dalam pembiayaan maupun dalam memberikan umpan balik terhadap sistem pendidikan atau kurikulum yang sedang berjalan Masyarakat adalah sumber input dari sekolah. Keberhasilan pendidikan, ketepatan kurikulum yang digunakan membutuhkan bantuan , serta input fakta dan pemikiran dari masyarakat.
Biaya:
Hambatan yang tidak kalah pentingnya adalah terbatasnya dana untuk mendukung pengembangan kurikulum, apalagi jika pengembangan kurikulum banyak berbentuk kegiatan eksperimen baik metode, isi atau sistem secara keseluruhan yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

1) Pengembangan kurikulum dilaksanakan dengan berpedoman pada prinsip-prinsip yang sedang berlaku agar hasil pengembangan tersebut sesuai dengan minat, bakat, kebutuhan peserta didik, lingkungan dan kebutuhan daerah sehingga dapat memperlancar pelaksanaan proses pendidikan dalam rangka perwujudan atau pencapaian tujuan pendidikan nasional.

2) Pihak-pihak yang berperan dalam pengembangan kurikulum yaitu:
Ø Administrator pendidikan
Ø Ahli pendidikan
Ø Guru
Ø Orangtua murid

3) Kurangnya partisipasi guru dan dukungan masyarakat, serta terbatasnya dana merupakan faktor penghambat dalam pengembangan kurikulum.

B. Saran

a. Sebagai pelaksana kurikulum, guru hendaknya mampu menciptakan situasi belajar yang aktif dan mampu mendorong kreatifitas siswa.
b. Dalam pengembangan kurikulum, hendaknya pihak-pihak yang berperan (administrator pendidikan, ahli pendidikan, guru dan orangtua siswa) duduk bersama untuk dapat menghasilkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik/siswa dan daerah.

DAFTAR PUSTAKA

Miller, John P dan Seller, Wayne. 1985. Curriculum Perspectives and Practice, London: Longman

Sukmadinata, N.S. 1997. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek Bandung : Remaja Rosda Karya
Subandijah. 1992. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=424.

http://thita-lil.blogspot.com/2008/06/prinsip-prinsip-dalam-pengembangan.html.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar